Ringkasan Berita:
- Viral paket Makan Bergizi Gratis (MBG) berisi lele mentah di SMAN 2 Pamekasan memicu polemik di publik.
- Pihak sekolah menolak lebih dari 1.000 paket makanan karena dianggap tidak layak langsung dikonsumsi siswa.
- Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan ikan tersebut sebenarnya lele marinasi, bagian dari menu gizi lengkap MBG.
- Perbedaan persepsi antara pihak sekolah dan penyedia makanan menunjukkan kurangnya komunikasi dan standar distribusi di lapangan.
- Kasus ini mendorong evaluasi pengawasan kualitas dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG agar tidak menimbulkan polemik serupa.
JAWA TIMUR, TINTABABEL.COM –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan paket makanan berisi ikan lele mentah viral di media sosial. Paket tersebut diketahui dikirim ke SMA Negeri 2 Pamekasan, Jawa Timur, namun akhirnya ditolak oleh pihak sekolah karena dinilai tidak layak dibagikan kepada siswa.
Peristiwa itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026, saat lebih dari 1.000 paket MBG dikirim ke sekolah tersebut. Dalam video yang beredar, terlihat satu kotak makanan berisi lele mentah, dua potong tahu, dan dua potong tempe. Kondisi ikan yang masih mentah bahkan disebut berbau amis sehingga memicu kekhawatiran pihak sekolah.
Kepala SMAN 2 Pamekasan, Moh. Arifin, mengatakan pihaknya memutuskan menolak distribusi makanan tersebut karena khawatir berisiko bagi kesehatan siswa.
“Menunya untuk tiga hari, isinya hanya tempe dua iris, tahu dua iris, dan lele mentah. Bahkan ada yang masih hidup. Baunya amis sekali,” kata Arifin, dikutip dari Pojoksatu.
Menurut Arifin, sekolah khawatir ikan mentah tersebut dapat merusak bahan makanan lain serta berpotensi tidak layak konsumsi bagi para siswa jika tetap dibagikan.
Klarifikasi Badan Gizi Nasional
Menanggapi viralnya video tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan bahwa menu yang terlihat di video tidak menunjukkan keseluruhan paket makanan yang disiapkan.
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menjelaskan bahwa menu MBG sebenarnya terdiri dari beberapa komponen yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa.
“Menu yang disiapkan SPPG sebenarnya lengkap. Namun dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian menu,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip detikcom.
BGN menyebut paket MBG saat itu berisi lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga sebagai bagian dari menu gizi seimbang.
Ahli gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat, Fikri Kuttawakil, juga menjelaskan bahwa penggunaan lele marinasi bertujuan menjaga kandungan protein serta memperpanjang ketahanan bahan makanan.
“Lele dimarinasi agar gizinya tetap terjaga dan bisa bertahan hingga satu hari,” jelasnya.
Sorotan terhadap Program MBG
Kasus ini kembali memicu perdebatan publik mengenai pengawasan distribusi makanan dalam program MBG. Program yang dikelola pemerintah melalui Badan Gizi Nasional ini menargetkan puluhan juta penerima manfaat, mulai dari siswa sekolah hingga ibu hamil dan balita.
BGN menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap proses distribusi makanan agar standar keamanan pangan dan kualitas gizi tetap terjaga di seluruh wilayah pelaksanaan program.
Di media sosial, video penolakan paket MBG tersebut terus menuai beragam reaksi dari warganet, mulai dari kritik terhadap kualitas distribusi hingga desakan agar pengawasan program diperketat.






