Tensi Memanas! Iran Sebut Perang Lawan AS Hampir Pasti Terjadi

oleh -
Ilustrasi Bendera Negara Iran dan Amerika Serikat, (foto : Indonesia sketsa)

JAKARTA, TINTABABEL.COM – Tensi tinggi kembali menyelimuti kawasan Teluk. Seorang pejabat militer senior Iran secara terbuka memperingatkan bahwa konflik bersenjata baru dengan Amerika Serikat (AS) kemungkinan besar sulit untuk dihindari dalam waktu dekat.

Wakil Inspektur Markas Militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, mengungkapkan bahwa berbagai indikasi di lapangan menunjukkan Washington tidak memiliki niat serius untuk mematuhi komitmen internasional maupun perjanjian yang telah disepakati.

“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar terjadi. Berbagai bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mematuhi komitmen atau perjanjian apa pun,” tegas Asadi dalam pernyataan yang dikutip kantor berita semi-resmi Fars, Sabtu (2/5/2026).

Manuver Media dan Harga Minyak

Asadi menilai, tindakan serta pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh para pejabat tinggi Gedung Putih belakangan ini hanyalah bagian dari strategi komunikasi atau orientasi media semata.

Menurutnya, ada dua agenda terselubung di balik sikap AS. Pertama, untuk mencegah jatuhnya harga minyak global secara drastis. Kedua, sebagai upaya taktis Washington untuk keluar dari situasi sulit yang mereka ciptakan sendiri akibat kebijakan luar negeri yang agresif.

“Tindakan mereka bertujuan untuk mencegah penurunan harga minyak dan keluar dari situasi sulit yang mereka ciptakan sendiri,” tambah Asadi.

Ia pun memastikan bahwa seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Iran saat ini berada dalam tingkat kesiapan tempur tertinggi guna menghadapi setiap ‘petualangan baru’ atau salah kalkulasi dari pihak Pentagon.

Jejak Konflik dan Kebuntuan Diplomasi

Pernyataan keras dari Teheran ini muncul sebagai buntut dari rangkaian konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Langkah tersebut memicu balasan sengit dari Teheran yang menyasar sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, hingga berujung pada penutupan jalur vital perdagangan dunia, Selat Hormuz.

Upaya damai sebenarnya telah diupayakan. Pakistan bertindak sebagai mediator dan berhasil mengupayakan gencatan senjata pada 8 April. Namun, pertemuan lanjutan yang digelar di Islamabad pada 11-12 April kemarin berakhir buntu tanpa membuahkan kesepakatan permanen.

Meski Presiden AS Donald Trump secara sepihak telah memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu atas permintaan Pakistan, Teheran tampak tidak ingin kehilangan momentum diplomatik sekaligus tetap waspada secara militer.

Proposal Baru Iran

Di sisi lain, upaya diplomasi ‘pintu belakang’ masih terus diupayakan. Melansir kantor berita resmi Iran, IRNA, Teheran dikabarkan telah mengajukan proposal baru kepada Pakistan pada Kamis lalu. Proposal tersebut berisi kerangka kerja untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat demi mengakhiri peperangan secara menyeluruh.

Kendati demikian, para pengamat internasional masih meragukan apakah proposal tersebut mampu menghidupkan kembali perundingan yang sempat mati suri.

Dengan kesiapan militer Iran yang kini berada di titik puncak, masa depan stabilitas keamanan di Selat Hormuz kini bergantung pada respons Washington terhadap tawaran diplomasi dari Teheran atau keberanian mereka untuk kembali melakukan konfrontasi fisik. (Inilah)

Baca Juga  Gara-Gara Titip Barang Elektronik di AS, Nama Raffi Ahmad Muncul di Penyidikan KPK

No More Posts Available.

No more pages to load.