, , , ,

Tambang Maut Pondi Pemali: 7 Nyawa Pendatang Melayang di Lahan IUP PT Timah, Berikut Rinciannya

oleh -

BANGKA, TINTABERITABABEL.COM — Tanah itu kembali runtuh. Bukan hanya dinding pasir yang ambruk di eks tambang Pondi, Desa Pemali, tetapi juga harapan tujuh pekerja tambang yang datang dari jauh untuk mengadu nasib. Mereka tertimbun hidup-hidup di lubang galian, di lahan yang secara sah berada dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk.

Tujuh nyawa melayang. Seluruhnya pendatang asal Padengkelan, Provinsi Banten. Mereka bukan pemilik modal, bukan pengambil keputusan. Mereka hanya buruh tambang yang bekerja di lokasi yang sejak lama dikenal rawan, berbahaya, dan telah berulang kali memakan korban jiwa.

Namun, tragedi demi tragedi seolah tak pernah cukup untuk menghentikan aktivitas di eks tambang Pondi. Lokasi yang ditinggalkan pengelola sebelumnya, PT Tongga Samudra, justru berubah menjadi ladang bebas eksploitasi. Tanpa pengawasan. Tanpa pengamanan. Tanpa kejelasan tanggung jawab dari pemegang IUP, PT Timah.

Baca Juga  Ungkap Penyelundupan Timah 11,2 Ton ke Malaysia, Konferensi Pers Polres Bangka Barat Tak Sebutkan Identitas 5 Tersangka

Warga Desa Pemali, Muslim, menyebut bahwa insiden maut di lokasi tersebut bukan peristiwa baru.

“Ini bukan yang pertama. Sudah sering terjadi. Dulu saat masih dikelola PT Tongga Samudra saja sudah ada korban. Setelah ditinggalkan, malah semakin ramai. Sudah puluhan nyawa melayang di sini,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Menurut Muslim, kandungan pasir timah yang masih tinggi membuat eks tambang Pondi terus diburu. Bahkan, penambang manual sekalipun bisa meraup hasil hingga lebih dari lima kilogram dalam sekali kerja.

“Itu yang bikin orang nekat. Padahal tanahnya labil, seperti es krim. Tapi tetap dibiarkan,” katanya.

Tambang yang mengalami longsor terakhir diketahui milik Akian, warga Jalan Kenanga, Desa Pemali. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bangka, terdapat 11 orang pekerja di lokasi saat kejadian. Empat orang selamat, tujuh lainnya meninggal dunia.

Baca Juga  Resmi! Bayern Munchen Juara Bundesliga 2025-2026

Empat pekerja yang selamat yakni Ecek, Asep (35), Mani, dan Sainan, seluruhnya pendatang asal Padengkelan, Banten.

Sementara korban meninggal dunia adalah Abat, Samson, Sanam, Abeng, Alex, Manaf, dan Soleh. Hingga berita ini diturunkan, beberapa korban masih dalam proses pencarian.

Muslim mengungkapkan, aktivitas penambangan di lokasi tersebut telah berlangsung sekitar dua bulan. Sempat berhenti, lalu kembali beroperasi sekitar satu minggu sebelum longsor maut terjadi.

“Pemiliknya tertutup. Semua pekerjanya dari luar daerah,” ujarnya.

Warga lain, Agus, bahkan menduga adanya oknum aparat yang melindungi aktivitas penambangan di lokasi tersebut.

“Kalau tidak ada yang membekingi, tidak mungkin tambang seperti ini bisa jalan terus. Silakan diselidiki. Tapi jangan saya yang menyebutkan namanya,” katanya.

Agus juga menegaskan bahwa hasil timah dari eks tambang Pondi tidak pernah disetorkan ke PT Timah, meskipun lokasi tersebut berada dalam wilayah IUP perusahaan negara itu.

Baca Juga  Hilang di Smelter SIP, Tapi Bukan Punya Stanindo: 300 Ton Timah Sitaan Diduga Milik Kolektor hingga Oknum Aparat

Sementara itu, Kapolres Bangka AKBP Deddy mengatakan fokus aparat saat ini masih pada proses pencarian dan evakuasi korban. Hal serupa disampaikan BPBD Kabupaten Bangka yang memastikan seluruh korban merupakan warga pendatang asal Banten.

Tragedi Pondi kembali membuka luka lama dan memunculkan pertanyaan mendasar:

sampai kapan wilayah IUP PT Timah dibiarkan menjadi ladang maut tanpa pengawasan?

Dan berapa nyawa lagi yang harus terkubur sebelum ada yang benar-benar bertanggung jawab?

Empat pekerja yang selamat yakni:

  1. Ecek – Padengkelan, Banten
  2. Asep – Padengkelan, Banten
  3. Mani – Padengkelan, Banten
  4. Sainan – Padengkelan, Banten

Sementara tujuh korban meninggal dunia, seluruhnya warga pendatang asal Padengkelan, Provinsi Banten, dengan rincian:

  1. Abat
  2. Samson
  3. Sanam
  4. Abeng
  5. Alex
  6. Manaf
  7. Soleh

No More Posts Available.

No more pages to load.