JAKARTA, TINTABABEL.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pembentukan BUMN ekspor satu pintu yakni PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) bakal memberikan dampak positif terhadap investor.
Pembentukan badan ini diyakini bisa mencegah terjadinya praktik under-invoicing maupun transfer pricing yang terjadi bertahun-tahun, merugikan negara sampai puluhan triliun rupiah.
“Kalau terhadap perusahaan-perusahaan go public, pasti positif sekali yang di DSI ini ya. Kenapa? Kan sebelumnya kalau praktik itu, betul, profitabilitas dari perusahaan go public tadi, sebagian diurus pemilik. Di sana, enggak dilaporkan perusahaannya. Jadi kalau dia sekarang dilaporkan penuh ke perusahaan, ya profitabilitasnya bisa naik signifikan. Itu berita positif kan untuk pasar, sebetulnya. Jadi, bukan negatif,” terang Purbaya di Jakarta, dikutip Senin (1/6/2026).
Kebijakan ekspor satu pintu lewat PT DSI ini, kata dia, diwajibkan untuk tiga komoditas yakni batu bara, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), dan besi paduan (ferro alloy).
Adapun skema ini berkaitan dengan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang wajib diparkir ke Indonesia sebesar 100 persen, selama setahun yang mulai berlaku hari ini.
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu, mengatakan, kebijakan ini dapat menguntungkan investor, karena dapat memperkuat tata kelola perusahaan yang bersih. “Ini mendisiplinkan supaya pemilik tidak menggarong perusahaan sendiri, yang notabene go public. Jadi investor akan diuntungkan,” kata dia.
Selain itu, lanjut Purbaya mengatakan, pemerintah akan melakukan pengawasan ketat terhadap kinerja PT DSI. Jika ditemukan pelanggaran, dia mengatakan, pemerintah siap memberikan sanksi tegas berupa pemecatan.
Lebih lanjut, dia mengatakan, kebijakan ini juga akan berdampak terhadap bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) yang akan jadi tempat untuk menaruh DHE SDA. “Terus, apa dampaknya ke Himbara untuk DHE? Dia akan punya dolar banyak, punya cash banyak. Kalau di pasar keuangan kadang-kadang ada bilang kas adalah raja. Jadi Anda bisa lihat dampaknya ke bank-bank Himbara,” tandasnya.
Di sisi lain, Purbaya mengaku heran, saham bank pelat merah yang sudah go public, tidak melejit. Padahal, penerapan DHE SDA membuat likuiditas bank Himbara bakal menguat.
“Saya enggak ngerti, kenapa bank-bank Himbara belum naik sahamnya, sekarang. Kalau saya boleh main saham, saya sudah beli kemarin-kemarin, ketika (harga) jatuh. Karena dia (bank Himbara) akan punya cash banyak, nantinya. Bisa mengatur kekuatan di sektor finansial kan,” tuturnya.
Selanjutnya, kata Purbaya, tebalnya likuiditas valas bank Himbara dampak implementasi DHE SDA.
“Jadi ini harusnya berdampak positif sekali ke bank Himbara, dan kredibilitas bank Himbara yang saya yakin akan menyebar ke sektor finansial kita. Jadi, sektor finansial akan semakin kuat. Karena sebelumnya uangnya sebagian besar lari lagi ke luar negeri. Sekarang uangnya ada di sini,” tambah dia. (Inilah)
Selamat Tinggal Transfer Pricing, PT DSI Siap Amankan Potensi Kerugian Negara Puluhan Triliun







