JAKARTA, TINTABABEL.COM – Pemerintah resmi menetapkan tarif listrik PT PLN (Persero) untuk periode Mei 2026 tanpa mengalami perubahan.
Kebijakan ini berlaku untuk seluruh pelanggan, baik golongan subsidi maupun nonsubsidi selama triwulan II 2026 (April-Juni).
Selain untuk menjaga daya beli masyarakat selama Idul Fitri, keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan sejumlah indikator ekonomi makro seperti nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia, tingkat inflasi, dan harga batubara acuan (HBA).
Tarif Listrik PLN per kWh Periode Triwulan II 2026
Berdasarkan informasi dari laman resmi PLN, berikut rincian tarif listrik per kWh untuk pelanggan nonsubsidi periode April-Juni 2026:
1. Tarif Listrik Rumah Tangga Non-Subsidi
•900 VA: Rp1.352 per kWh
•1.300 VA: Rp 1.444,70 per kWh
•2.200 VA: Rp 1.444,70 per kWh
•3.500–5.500 VA: Rp 1.699,53 per kWh
•≥6.600 VA: Rp 1.699,53 per kWh
2. Tarif Listrik Bisnis dan Pemerintah
•B-2/TR (6.600 VA–200 kVA): Rp 1.444,70 per kWh
•P-1/TR (kantor pemerintah): Rp 1.699,53 per kWh
•P-3/TR (penerangan jalan umum): Rp 1.699,53 per kWh
3. Tarif Listrik Pelanggan Subsidi
•450 VA: Rp 415 per kWh
•900 VA bersubsidi: Rp 605 per kWh
•900 VA RTM: Rp 1.352 per kWh
•1.300–2.200 VA: Rp 1.444,70 per kWh
•≥3.500 VA: Rp 1.699,53 per kWh
Cara Menghemat Listrik Rumah Tangga
1. Matikan Peralatan Elektronik Saat Tidak Digunakan
Jika ingin menghemat pengeluaran biaya listrik, jangan membiarkan barang-barang elektronik seperti televisi, lampu, kipas angin, hingga charger tetap menyala. Kebiasaan kecil yang dianggap sepele ini bisa membuat konsumsi listrik membengkak.
2. Manfaatkan Cahaya dan Ventilasi Alami
Demi menghemat listrik, biasakan untuk membuka jendela dan tirai agar cahaya matahari masuk ke dalam rumah.
Selain menghemat penggunaan lampu, cara ini juga mengurangi pemakaian kipas angin atau AC, sekaligus membuat sirkulasi udara di rumah jadi lebih sehat.
3. Rutin Membersihkan Peralatan Elektronik
Bersihkan peralatan elektronik seperti AC, kipas angin, dan kulkas secara rutin setiap satu hingga tiga bulan sekali. Debu dan kotoran yang menumpuk pada perangkat tersebut dapat menyumbat sirkulasi udara dan menghambat kinerja mesin.
Dampaknya, barang elektronik itu akan mengonsumsi daya listrik yang lebih besar karena mereka harus bekerja lebih ekstra.
4. Gunakan Lampu LED
Memilih lampu sembarangan ternyata membawa dampak besar pada tagihan listrik di akhir bulan.
Biar tidak membengkak, gunakan lampu LED yang mengonsumsi daya lebih rendah. Selain bisa menghemat tagihan listrik, lampu LED juga memiliki usia pakai yang lebih lama.
Contoh Menghitung Konsumsi Listrik
Untuk menghitung konsumsi listrik dari satu alat elektronik, kamu bisa menggunakan rumus berikut ini:
Konsumsi Listrik (kWh) = daya alat (watt) x lama pemakaian (jam) / 1.000.
Setelah mendapatkan total kWh, kamu bisa menghitung estimasi biaya pemakaiannya dengan rumus:
Estimasi Biaya = Total kWh x Tarif per kWh Golongan
Contoh Perhitungan Konsumsi Alat Elektronik
Berikut adalah contoh perhitungan konsumsi harian dari alat elektronik yang sering menyala di rumah dengan daya 1.300 VA:
1. AC (1 unit), daya 400 Watt, penggunaan 8 jam per hari
kWh = 400 x 8 / 1.000 = 3,2 kWh
2. Kulkas (1 unit), daya 150 Watt, menyala 24 jam per hari
kWh = 150 x 24 / 1.000 = 3,6 kWh
3. TV LED (1 unit), daya 50 Watt, menyala 5 jam per hari
kWh = 50 x 5 / 1.000 = 0,25 kWh
4. Lampu LED (5 unit) total daya 50 Watt, menyala 12 jam per hari
kWh = 50 x 12 / 1.000 = 0,6 kWh
Total Konsumsi Bulanan
Dari perhitungan sebelumnya, sekarang mari kita hitung total konsumsi bulanannya:
Total kWh per hari: 3,2 + 3,6 + 0,25 + 0,6 = 7,65 kWh
Total kWh per bulan (30 hari): 7,65 x 30 = 229,5 kWh per bulan.
Dengan asumsi rumah menggunakan daya listrik 1.300 VA dengan tarif Rp1.444,70 per kWh, maka tagihan listrik bulanan untuk keempat barang elektronik di atas adalah:
•229,5 x Rp1.444,70 = Rp331,558,65
Angka di atas merupakan perkiraan kasar konsumsi empat alat elektronik yang disebutkan saja. (Inilah)







