Nama Dicatut di Isu Solar Ilegal Belitung, Cacan Pertanyakan Etika Jurnalisme Ajay

oleh -

Laporan: Radak02

BELITUNG, TINTABERITABABEL.COM — Ditengah pusaran pemberitaan solar ilegal yang menyeret banyak nama di Pulau Belitung, satu persoalan baru mencuat ke permukaan, bukan soal minyak, melainkan soal pencatutan nama dan manipulasi narasumber.

Oktoris Chandra alias Cacan, sosok yang sebelumnya kerap disebut dalam laporan investigatif jaringan solar ilegal, kini justru berdiri di posisi berbeda.

Cacan marah, keberatan, dan merasa dijebak oleh narasi yang tidak pernah ia ucapkan.

Kegeraman itu diarahkan kepada Ainul Yakin alias Ajay, oknum wartawan dari salah satu media lokal di Belitung.

Dalam sebuah pemberitaan, Ajay secara terang-terangan mencantumkan nama Cacan sebagai narasumber terkait dugaan solar ilegal. Masalahnya, menurut Cacan, tak pernah ada wawancara, konfirmasi, atau izin.

“Saya tidak pernah diminta oleh Ajay, baik secara lisan maupun tertulis, untuk menjadi narasumber atau memberikan pernyataan di media online manapun,” tegas Cacan saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (20/1/2026).

Nada Cacan bukan sekadar bantahan. Ia menyimpan amarah. Baginya, pencatutan nama tanpa persetujuan bukan hanya kesalahan teknis, melainkan pelanggaran serius terhadap etika jurnalistik yang berpotensi merusak reputasi pribadi.

Baca Juga  Timah Belitung Dimonopoli CV TMTB: Harga Ditekan, Kolektor Tercekik

“Nama saya dipakai begitu saja. Ini bukan soal suka atau tidak suka, tapi soal hak dan etika. Saya sangat keberatan,” ujarnya.

Kemarahan Cacan menjadi lebih relevan jika ditarik ke belakang. Dalam rangkaian laporan investigatif sebelumnya, Tim Investigasi Radak Babel memang pernah memuat pengakuan seseorang bernama Cacan, yang menyebut dirinya bagian operasional perusahaan milik Sopiyan alias Pian, sosok yang oleh banyak sumber lapangan disebut sebagai bos besar distribusi solar ilegal di Belitung.

Dalam laporan itu, Cacan digambarkan secara detail.

Ia mengaku ditugaskan Pian untuk “maju” menghadapi pemberitaan, membicarakan solusi agar berita tak terbit, hingga menyebut hitung-hitungan biaya, transportasi, bahkan rekening. Semua percakapan tersebut diklaim berbasis komunikasi langsung yang terdokumentasi.

Namun, disinilah garis batas menjadi krusial. Versi investigatif yang berbasis rekaman dan verifikasi berbeda secara fundamental dengan pemberitaan Ajay, yang mencatut nama Cacan sebagai narasumber tanpa proses konfirmasi apapun.

Bagi Cacan, ini bukan lagi soal isi berita, melainkan soal cara kerja jurnalisme yang menyimpang.

Baca Juga  Kapolsek Tempilang Serahkan Hadiah Turnamen Gaple SRC

Alih-alih memberikan klarifikasi serius, Ajay justru merespon dengan nada meremehkan. Dalam pesan WhatsApp yang dikirim Selasa (20/1/2025), Ajay menulis:

“Hahhaa senior. Awalnya hanya pengen tau. Nama Cacan kan gak hanya Cacan bang. Kan banyak Pipit Cacan. Takutlah apalagi ini mau maju Ketua PWI Belitung. Bisa dianulir mas boy.”

Jawaban ini justru mempertegas kegelisahan banyak pihak.

Tidak ada penjelasan jurnalistik, tidak ada permintaan maaf, dan tidak ada klarifikasi substansi. Yang muncul justru tawa, dan insinuasi politik.

Bagi Cacan, pernyataan itu menjadi bukti bahwa pencatutan nama dilakukan secara sadar, bukan kekeliruan.

Ancaman Jalur Hukum

Merasa dirugikan, Cacan menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum terhadap Ajay. Ia menuntut klarifikasi terbuka dan penjelasan resmi, mengapa namanya digunakan tanpa persetujuan.

“Saya tidak terima nama saya dipakai tanpa izin. Dia harus bertanggung jawab dan menjelaskan ke publik,” kata Cacan dengan nada kesal.

Langkah hukum ini, jika benar ditempuh, berpotensi membuka tabir lain, bagaimana praktik jurnalisme dijalankan ditengah isu besar seperti solar ilegal, dan sejauh mana etika dikorbankan demi kepentingan tertentu.

Baca Juga  Buser Polres Bangka Ciduk Empat Tersangka Curanmor

 

Solar Ilegal dan Jurnalisme Bermasalah

Kasus ini menjadi ironi ganda. Di satu sisi, publik Belitung dihadapkan pada dugaan jaringan solar ilegal yang sistematis, mulai dari “kencingan” kapal tanker, penyelewengan solar subsidi SPBU dan SPBN, hingga distribusi ke tambang timah ilegal.

Di sisi lain, muncul praktik pemberitaan yang mencederai prinsip dasar jurnalistik yakni verifikasi, konfirmasi, dan persetujuan narasumber.

Jika nama bisa dicatut sembarangan, jika narasumber bisa “diciptakan” tanpa wawancara, maka publik berhak bertanya, mana fakta, mana rekayasa?

Polemik antara Cacan dan Ajay bukan sekadar konflik personal. Ia adalah alarm keras bagi dunia pers lokal dan penegakan etika media. Sebab ditengah gelapnya praktik ilegal, jurnalisme seharusnya menjadi cahaya, bukan justru menambah kabut.

Publik Belitung kini menunggu dua hal sekaligus, apakah jaringan solar ilegal benar-benar disentuh hukum, dan apakah pencatutan nama dalam pemberitaan akan dibiarkan tanpa konsekuensi. (Radak)

No More Posts Available.

No more pages to load.