Opini — Oleh La Ode M. Murdani Wartawan Tinta Berita Babel
TINTABERITABABEL.COM — Dunia Jurnalistik saat ini. Sedang tidak baik baik saja aksi kekerasan dan penyelaguaan profesi jurnalis semkin tak jelas ujungnya. Bahkan aksi oknum oknum tersebut telah menambah daftar panjang kejadian yang telah mencoreng reputasi profesi ini.
Kasus-kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang etika dan integritas dalam dunia media.
Seperti beberapa kasus yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), baru baru ini. Media diguncang dengan salah satu oknum yang mengaku wartawan meminta jatah kepada Penambang di wilayah Kabupaten Bangka Tengah sebesar Rp 50 ribu perponton secara paksa.
Alhasil oknum yang mengaku wartawan itu, babak belur dihajar massa hingga dilarikan ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan medis. Belum genap satu minggu kejadian serupa kembali terjadi kepada tiga orang pria yang mengaku sebagai jurnalis dan dua orang lagi mengaku sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
Padahal mereka sedang tidak menjalankan profesi mereka sebagai fungsi kontrol sosial. Namun masyarakat awam menilai tindakan oknum oknum tersebut sudah terlalu meresahkan. Hingga hukum rimba yang bisa dilakukan oleh masyarakat.
Tidak hanya itu, Direktorat Polisi Perairan dan Udara kemabli menetapkan satu orang tersangka dalam kasus penambangan ilegal. Siapa dia tidak lain adalah oknum pimpinan jurnalis.
Beberapa oknum jurnalis ini tidak hanya merusak kepercayaan publik terhadap media sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya, tetapi juga menghancurkan reputasi insan Pers setanah air.
Akibatnya dampak dari kasus kasus tersebut sangat merugikan bagi industri media secara keseluruhan. redibilitas media sebagai pengawas kekuasaan dan penjaga kebenaran dipertanyakan, sementara kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disajikan oleh media semakin memudar.
Selain itu, kurangnya pengawasan internal dan kebijakan yang ketat terkait etika jurnalistik. Hal ini menunjukkan perlunya reformasi dalam cara media mengelola dan mengawasi kinerja jurnalisnya.
Meskipun skandal ini mengguncang dunia jurnalistik, banyak jurnalis yang tetap berkomitmen untuk menjaga integritas dan profesionalisme dalam pekerjaan mereka.
Mereka menegaskan bahwa tindakan oknum oknum itu hanya segelintir individu tidak mencerminkan seluruh profesi jurnalis, dan mereka bersedia bekerja sama untuk membersihkan nama baik industri media.
Dalam menghadapi tantangan ini, industri media diharapkan untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam menegakkan standar etika dan integritas, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam semua aspek operasionalnya.
Hanya dengan demikian, media dapat memulihkan kepercayaan publik dan membangun reputasi yang kuat sebagai penjaga kebenaran dan keadilan dalam masyarakat. (**)






