Lubang Maut Tambang Pondi Pemali: 7 Nyawa Terkubur, Nama Bos Kim Kian Mencuat

oleh -

BANGKA, TINTABERITABABEL.COM — Tragedi maut kembali mengguncang dunia pertambangan Bangka Belitung. Tujuh orang pekerja tambang dilaporkan tertimbun longsor di kawasan Tambang Pondi, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka.

Lokasi kejadian berada di area yang sejak lama dikenal sangat rawan longsor, bahkan oleh para penambang sendiri dijuluki sebagai “model es krim” struktur tanah rapuh, berlapis, dan siap runtuh kapan saja.

Berdasarkan informasi di lapangan, insiden terjadi saat para pekerja berada di dalam lubang tambang dengan kedalaman sekitar 18 meter. Longsor besar tiba-tiba terjadi dari dinding atas lubang, menimbun seluruh pekerja di dalamnya tanpa kesempatan menyelamatkan diri.

Hingga berita ini diterbitkan, dari delapan orang yang berada di lokasi, hanya satu yang selamat, sementara tujuh lainnya tertimbun material tanah dan pasir, dimana 4 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia sementara 3 lainnya dalam proses pencarian.

Baca Juga  Tambak Ikan Roboh Dihantam TI, Kerusakan Lingkungan yang Dianggap Selesai Begitu Saja

Ditengah duka dan proses evakuasi yang masih berlangsung, nama Kim Kian mencuat sebagai pihak yang disebut-sebut sebagai pemilik atau pengendali aktivitas tambang tersebut. Informasi ini beredar dari sumber lapangan dan kalangan penambang, yang menyebut lokasi Pondi Pemali selama ini dikelola oleh seorang pengusaha bermodal besar yang berdomisili di Pemali.

“Punya orang Pemali, namanya Akian (Kim Kian). Ini kami masih telusuri siapa saja yang terlibat,” kata Nandi.

Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait, kemunculan nama Kim Kian langsung menjadi sorotan publik. Pasalnya, tambang tersebut diduga beroperasi tanpa izin resmi, tanpa SPK, tanpa standar keselamatan kerja, dan berada di wilayah yang secara teknis sudah dikenal ekstrem dan berbahaya.

Baca Juga  Akibat Orang Ketiga, Munazar Bunuh Istrinya

Fakta di lapangan memperlihatkan, para pekerja seperti dipaksa masuk ke lubang maut – tanpa helm keselamatan, tanpa sistem penyangga dinding, tanpa prosedur evakuasi darurat. Mereka bekerja di bawah ancaman longsor setiap saat, sementara pengelola tetap menjalankan produksi seolah risiko nyawa hanyalah angka statistik.

Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan membuka kembali pertanyaan besar soal siapa yang bertanggung jawab atas tambang-tambang berisiko tinggi yang terus dibiarkan beroperasi di Bangka.

Kini publik menunggu: apakah kasus ini akan diusut sampai ke pemodal, atau kembali berhenti di level korban dan operator lapangan semata?

No More Posts Available.

No more pages to load.