BANGKA, TINTABERITABABEL.COM — Tragedi maut di kawasan eks Tambang Pondi, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, terus menyisakan tanda tanya besar. Hingga hari ini, Tim SAR Gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban kecelakaan tambang yang menewaskan tujuh orang pekerja.
Dari total tujuh korban, empat orang telah berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara tiga korban lainnya masih tertimbun, dan dalam proses pencarian di dalam lubang tambang yang dikenal sangat rawan longsor.
Proses evakuasi melibatkan Basarnas, BPBD, TNI-Polri, serta relawan. Namun kondisi tanah yang labil, kedalaman lubang mencapai belasan meter, serta risiko longsor susulan membuat pencarian berlangsung lambat dan berbahaya.
“Pukul 20.50 wib tadi satu orang berhasil ditemukan, dan total yang berhasil di evakuasi berjumlah empat orang dalam kondisi meninggal dunia,” kata Nandi sembari mengatakan pihaknya masih terus memantau di lokasi dan akan mengabarkan secepatnya.
Lokasi kejadian berada di eks Tambang Pondi Pemali, sebuah kawasan yang sejak lama diketahui ekstrem dan tidak layak untuk aktivitas penambangan tanpa sistem keselamatan ketat. Namun ironisnya, aktivitas di lokasi ini tetap berjalan, hingga akhirnya berubah menjadi kuburan massal bagi para pekerja.
Ditengah tragedi tersebut, nama Kim Kian alias Akian mencuat sebagai pihak yang disebut-sebut sebagai pemilik atau pengendali tambang. Informasi ini beredar luas di kalangan penambang dan sumber lapangan. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai status hukum yang bersangkutan.
Publik pun mulai bertanya, apakah Akian benar-benar akan diproses secara hukum, atau justru dilindungi dan disembunyikan?
Pasalnya, tambang ini diduga kuat beroperasi tanpa izin resmi, tanpa SPK, tanpa standar keselamatan kerja, dan berada di wilayah yang bahkan oleh pelaku lapangan sendiri sudah lama dianggap “zona merah”.
Tragedi ini kembali membuka borok lama sektor pertambangan Bangka.
Tambang ilegal dibiarkan, pengusaha besar nyaris tak tersentuh, sementara korban selalu datang dari kalangan pekerja kecil. Tujuh nyawa telah hilang. Empat jasad sudah diangkat. Tiga masih tertimbun di perut bumi Pemali.
Kini bukan hanya soal evakuasi korban, tapi ujian serius bagi aparat penegak hukum: apakah kasus ini akan menjadi pintu masuk membongkar aktor utama di balik tambang maut ini, atau kembali menguap seperti tragedi-tragedi sebelumnya. (Radak )






