Kasus ‘Tendangan Kungfu’ Bhayangkara FC Vs Dewa United Berakhir Damai, Ketua PSSI Apresiasi

oleh -
Fadly Alberto dengan aksi tendang kungfunya, (Foto Instagram @smgfootbal/Inilah)

JAKARTA, TINTABABEL.COM — Ketua Umum PSSI, Erick Thohir mengapresiasi langkah damai yang diambil dua tim, Bhayangkara Presisi Lampung FC dan Dewa United Banten FC terkait kasus tendangan ‘kungfu’ di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) Super League 2025/2026.

Ya, drama ‘tendangan kungfu’ yang melibatkan dua talenta muda, Fadly Alberto Hengga dari Bhayangkara FC dan Raka Nurholis dari Dewa United, resmi diselesaikan melalui jalur kekeluargaan.

Bertempat di Dewa United Arena, Banten, pada Rabu (22/4/2026), manajemen kedua klub duduk bersama untuk menurunkan tensi pasca-pertandingan di Stadion Citarum, Minggu lalu. Tak ada dendam, yang ada hanyalah komitmen untuk saling mengevaluasi diri.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” kata Erick dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/4/2026).

Di sisi lain, sosok yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI tersebut menegaskan, kalau PSSI tidak hanya fokus pada persoalan dugaan kekerasan di lapangan. Melainkan juga isu rasisme yang turut mengiringi kasus tersebut.

Bagi Erick, dalam kompetisi pembinaan dan juga profesional, setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme harus disikapi serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan para klub.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” ujarnya.

Karena itu, Erick meminta operator kompetisi I-League, serta klub-klub peserta kompetisi tersebut, tak pernah berhenti dan terus menegakkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain.

PSSI juga meminta agar sosialisasi mengenai anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan kepada wasit diperkuat secara konsisten di seluruh level EPA dan kompetisi profesional.

Selain itu, pengawasan pertandingan harus diperketat agar kompetisi pemain muda benar-benar menjadi ruang belajar yang sehat, aman, dan mendidik.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” lanjutnya. (Inilah)

Baca Juga  Tim Thomas Indonesia Bawa Misi Mengulangi Kenangan Manis di Denmark

No More Posts Available.

No more pages to load.