Oleh: Bangdoi Ahada
TINTABERITABABEL.COM, BANGKA BELITUNG — Perairan Bangka Belitung bukan hanya jalur lalu lintas kapal dan kawasan penambangan timah. Di balik riak lautnya, terbentang infrastruktur vital negara: kabel bawah laut listrik dan telekomunikasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini juga berulang kali disebut dalam kasus pencurian kabel bawah laut, memunculkan dugaan kuat adanya jaringan penadah yang terorganisir.
Fakta di lapangan menunjukkan, kabel bawah laut yang kerap menjadi sasaran pencurian bukan kabel listrik milik PLN, melainkan kabel telekomunikasi, terutama yang dimiliki PT Telkom Indonesia. Dalam salah satu kasus yang pernah diungkap aparat, TNI Angkatan Laut mengamankan ratusan meter kabel bawah laut milik Telkom di perairan Bangka Selatan. Kabel tersebut telah dipotong, digulung, dan siap dipindahkan—indikasi kuat bahwa pencurian dilakukan bukan secara spontan, melainkan dengan tujuan komersial.
Bukan Aksi Tunggal, Tapi Terstruktur
Pencurian kabel bawah laut bukan kejahatan biasa. Kabel jenis ini tertanam di dasar laut, membutuhkan alat selam, pengetahuan jalur kabel, serta sarana angkut laut. Artinya, pelaku bukan nelayan biasa yang “kebetulan menemukan kabel”.
“Sulit membayangkan pencurian kabel bawah laut tanpa pesanan,” ujar seorang sumber keamanan laut yang enggan disebutkan namanya. Menurutnya, nilai tembaga dan material logam pada kabel menjadi alasan utama, tetapi tanpa penadah, pencurian tidak akan terjadi.
Di sinilah muncul dugaan jaringan penadah—pihak yang diduga menampung, memotong, dan menjual kembali kabel hasil curian, baik sebagai besi tua, tembaga, maupun komponen lain. Dugaan ini diperkuat oleh pola berulang: kabel dicuri di laut, namun jejak akhirnya kerap menghilang di darat.
Bangka Belitung: Wilayah Rawan karena Banyak Jalur Kabel
Secara geografis, Bangka Belitung memang strategis. Di perairan ini melintas:
Kabel listrik bawah laut 150 kV milik PLN yang menghubungkan Sumatera–Bangka melalui jalur Tanjung Carat–Muntok.
Kabel serat optik telekomunikasi, termasuk milik Telkom dan jaringan swasta seperti Biznet, dengan titik pendaratan di wilayah Bangka Barat.
Padatnya infrastruktur bawah laut ini membuat Bangka Belitung rawan kejahatan kelautan, terutama ketika pengawasan longgar dan aktivitas ilegal seperti penambangan timah laut marak terjadi. Aktivitas tambang ilegal kerap dijadikan “kamuflase”, memudahkan pelaku menyelam, memotong, dan mengangkat kabel tanpa menimbulkan kecurigaan.
Negara Rugi, Publik Terdampak
Dampak pencurian kabel bawah laut bukan sekadar kerugian material. Gangguan jaringan komunikasi, potensi lumpuhnya layanan publik, hingga ancaman terhadap keamanan nasional menjadi konsekuensi serius. Kabel telekomunikasi adalah tulang punggung informasi, sementara kabel listrik menopang kehidupan ekonomi masyarakat pulau.
Ironisnya, hingga kini pengungkapan kasus kerap berhenti pada pelaku lapangan. Sementara aktor penadah, yang diduga menjadi otak ekonomi kejahatan ini, jarang tersentuh. Padahal dalam hukum pidana, penadah memiliki peran krusial dan dapat dijerat sanksi berat.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Siapa yang membeli kabel-kabel itu?
Ke mana material hasil curian dijual?
Mengapa kejahatan ini terus berulang di wilayah yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung di atas laut Bangka Belitung. Selama rantai penadah tidak dibongkar, pencurian kabel bawah laut diperkirakan akan terus terjadi—menggerogoti infrastruktur negara secara diam-diam.
Laut Bangka Belitung menyimpan lebih dari sekadar timah. Ia menyimpan bukti, jejak, dan mungkin aktor-aktor yang belum se






