Jaringan Solar Gelap Belitung: Bos Pian Membantah, Fakta Lapangan Berbicara

oleh -

Oleh: Tim Investigasi Radak Babel

 

BELITUNG, TINTABERITABABEL.COM — Setelah pemberitaan viral soal praktek jual beli BBM Solar illegal, akhirnya Bos Pian yang disebut-sebut pemain besar angkat bicara.

Sebelumnya Bos Pian tidak berani menjawab konfirmasi yang dilayangkan Tim Radak Babel pada Minggu (18/1/2025) pagi. Bos Pian justru meminta Candra alias Cacan untuk tampil mewakili dirinya.

Setelah berita viral, akhirnya Bos Solar Pian memberikan bantahan atas berbagai tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa kapal yang bersandar di Dermaga Polairud bukan untuk aktivitas ilegal.

“Sejauh pengetahuan saya, kapal yang sandar di Polairud itu untuk pengantaran kebutuhan BBM di pulau-pulau. Bisa juga diantar dari Membalong, tidak mesti dari Polairud. Kebutuhan pembangkit listrik di pulau-pulau berpenduduk membuat kapal tidak selalu standby di satu dermaga,” ujar Pian.

Terkait dugaan solar berasal dari praktik “kencingan” tanker, Pian dengan tegas membantah. Ia menyebut tudingan itu tidak sesuai fakta dan menegaskan tidak pernah terlibat dalam praktik tersebut.

“Seluruh aktivitas yang saya lakukan selalu berupaya mengikuti ketentuan yang berlaku,” katanya.

Pian juga membantah tuduhan bahwa solar dari gudangnya dijual ke SPBU atau SPBN di Belitung.

“Informasi tersebut tidak benar. Saya tidak pernah melakukan penjualan atau penyaluran solar ke SPBU maupun SPBN,” ujarnya.

Soal dugaan penyaluran BBM ke penambang timah ilegal, Pian kembali menegaskan penolakannya. Ia menyatakan tidak pernah memperjualbelikan BBM kepada penambang ilegal atau pihak manapun yang melakukan kegiatan bertentangan dengan hukum.

Baca Juga  Timah Belitung Dimonopoli CV TMTB: Harga Ditekan, Kolektor Tercekik

Menjawab tudingan bahwa aktivitas tersebut berlangsung lebih dari lima tahun, Pian menyebut klaim itu perlu dipertanyakan.

“Saya tidak pernah melakukan jual beli BBM ke penambang ilegal selama lima tahun terakhir seperti yang dituduhkan,” katanya.

 

Pertanyaan Besar Penegakan Hukum

Meski bantahan telah disampaikan, fakta-fakta lapangan yang dihimpun Tim Radakbabel.com menyisakan pertanyaan besar: mengapa peredaran solar ilegal di Belitung terus berlangsung tanpa sentuhan hukum yang tegas? Bagaimana mungkin jaringan dengan pola operasi rapi, armada bergerak terbuka, gudang penampungan, hingga dugaan aktivitas di kawasan pengawasan ketat bisa berjalan bertahun-tahun?

Ditengah krisis distribusi BBM subsidi dan jeritan nelayan serta masyarakat kecil, praktik ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ia adalah kejahatan ekonomi yang merampas hak publik dan merusak tatanan hukum.

Laporan ini bukan vonis, melainkan alarm. Aparat penegak hukum ditantang untuk membuka tabir, menelusuri setiap mata rantai, dan membuktikan bahwa hukum tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Publik Belitung menunggu, apakah solar ilegal akan terus mengalir, atau hukum akhirnya berani menutup kran gelap itu?

Sebelumnya dalam investigasi Tim Radak Babel selama tiga hari di Belitung, dihimpun informasi bahwa di Pulau Belitung, praktik gelap peredaran BBM solar ilegal bukanlah cerita baru.

Baca Juga  Tambak Ikan Roboh Dihantam TI, Kerusakan Lingkungan yang Dianggap Selesai Begitu Saja

Ia telah lama berdenyut, bergerak senyap di jalur laut dan darat, namun ironisnya berlangsung begitu terang di hadapan publik.

Solar yang seharusnya menjadi hak nelayan, petani, dan masyarakat kecil, justru diduga mengalir deras ke gudang-gudang penampungan hingga ke tangan penambang timah ilegal.

Lebih mengkhawatirkan, praktik ini seolah tak pernah benar-benar tersentuh hukum.

Hasil penelusuran Tim Investigasi Radakbabel.com menguatkan dugaan, bahwa peredaran solar subsidi ilegal di Belitung bukan sekadar ulah pemain kecil.

Ia diduga dijalankan oleh jaringan terorganisir, sistematis, rapi, dan berlangsung bertahun-tahun.

 

Modus Berlapis: Dari Laut Hingga Gudang

Di laut, sejumlah kapal tanker diduga melakukan praktik yang dikenal luas di kalangan pelaut sebagai “kencingan tanker”.

Istilah ini merujuk pada pengeluaran solar secara ilegal dari tangki kapal, yang kemudian dipindahkan ke kapal kecil atau drum-drum penadah di tengah laut.

Solar tersebut selanjutnya dibawa ke darat melalui pelabuhan kecil, muara, hingga dermaga tidak resmi.

Di darat, jaringan ini diperkuat dengan penyelewengan solar subsidi dari SPBU dan SPBN.

Solar dibeli menggunakan armada kendaraan yang telah dimodifikasi tangkinya, memanfaatkan barcode ganda, hingga dugaan penggunaan identitas palsu. Dari titik-titik ini, BBM subsidi digiring ke gudang penampungan sebelum dipasarkan kembali dengan harga industri.

Baca Juga  Polda Babel Berhasil Meringkus Pelaku Spesialis Berangkas

Tim Radakbabel.com mencatat, sebuah kendaraan pengangkut solar subsidi sempat terpantau mondar-mandir di kawasan Tanjungpandan dengan pola operasi mencurigakan.

Penelusuran berlanjut ke sebuah gudang yang diduga menjadi titik transit utama solar ilegal.

Dalam rangkaian temuan tersebut, muncul nama “Pian”, yang oleh sejumlah sumber lapangan disebut sebagai pemain besar solar jalur laut di kawasan Air Merbau, Kecamatan Tanjungpandan.

Ia diduga mengendalikan distribusi solar dalam jumlah besar, baik yang bersumber dari SPBU/SPBN maupun hasil “kencingan” tanker. Solar itu disebut-sebut kemudian disalurkan ke berbagai pihak, termasuk penambang timah ilegal di darat dan perairan Belitung.

 

Kapal dan Dermaga Polairud

Temuan paling mencolok adalah informasi mengenai kapal pengangkut solar yang dikaitkan dengan Pian, yang disebut-sebut kerap bersandar di Dermaga Polairud Belitung. Dermaga ini seharusnya menjadi area dengan pengawasan ketat aparat penegak hukum, mengingat posisinya berada di bawah kendali kepolisian perairan.

Seorang sumber lapangan menyebut, jaringan solar ilegal ini memiliki struktur nyaris sempurna: ada pengumpul dari tanker, penadah SPBU/SPBN, pengelola gudang, transporter darat dan laut, hingga “klien tetap” dari kalangan penambang ilegal. Setiap mata rantai saling mengunci dan membuat praktik ini sulit ditembus. (RADAK)

No More Posts Available.

No more pages to load.