Gambar ilustrasi
JAKARTA, TINTABABEL.COM – Perekonomian Indonesia kembali menjadi fokus publik pada 22 Februari 2026, dengan data pertumbuhan yang kuat dan terobosan kebijakan perdagangan internasional yang dipandang dapat membuka peluang ekspor besar bagi produk nasional.
Data Ekonomi Terbaru
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11% secara tahunan, didorong oleh konsumsi domestik yang kuat serta investasi dan ekspor yang mulai pulih setelah pandemi. Ini merupakan salah satu level pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Triwulan IV 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,39%, menjadi angka tertinggi sejak pandemi karena konsumsi dan investasi yang solid.
Di sisi perdagangan luar negeri, nilai ekspor sawit Indonesia melonjak 102% pada Desember 2025, yang mencerminkan dinamika permintaan global yang kuat terhadap komoditas unggulan Indonesia.
Kesepakatan Dagang Besar dengan AS
Dalam lawatan diplomatik ke Washington D.C., Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian dagang yang signifikan. Perjanjian ini mengurangi tarif impor AS atas barang Indonesia dari 32% menjadi 19%, serta memberikan pembebasan tarif untuk lebih dari 1.800 lini produk Indonesia termasuk CPO, kopi, kakao, dan rempah-rempah — langkah yang diyakini akan mendorong lonjakan volume ekspor RI ke pasar AS.
“Perjanjian ini menghormati kedaulatan kedua negara dan merupakan hasil yang saling menguntungkan (win-win deal), membuka akses pasar lebih luas bagi produk unggulan Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers usai penandatanganan perjanjian tersebut.
Selain itu, Presiden Joko Widodo (yang juga ikut hadir dalam pertemuan bilateral) menegaskan bahwa pemerintah siap menyambut peluang dan tantangan baru dari dinamika perdagangan global.
“Kami siap menghadapi semua kemungkinan dan akan terus mendorong ekspor kita berkembang di tengah ketidakpastian global,” tegas Presiden Prabowo Subianto saat menjawab pertanyaan wartawan di Washington, D.C.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menambahkan, bahwa dengan fasilitas tarif 0% untuk banyak komoditas unggulan.
“logikanya volume ekspor Indonesia ke Amerika Serikat akan meningkat signifikan karena sejumlah produk kini dapat bersaing dengan harga lebih kompetitif,” katanya.
Gabungan antara pertumbuhan ekonomi yang kuat, lonjakan ekspor komoditas unggulan, dan kesepakatan dagang strategis dengan Amerika Serikat menjadi alasan utama berita ekonomi Indonesia hari ini menjadi sorotan viral di berbagai media dan platform sosial.
Kebijakan ini dipandang mendorong daya saing produk nasional di pasar global sekaligus memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi 2026.






