BANGKA SELATAN, TINTABABEL.COM – Di sudut sunyi Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, waktu seperti berhenti berdetak bagi Ibu Rosna. Tak ada kalender yang benar-benar ia hitung. Tak ada lagi hari yang berbeda dari sebelumnya. Selama hampir dua tahun, perempuan paruh baya itu hanya mengenal satu posisi: terbaring di atas sehelai tikar tipis yang mulai usang.
Tubuhnya terkulai, matanya kerap menerawang kosong ke langit-langit kamar kayu yang mulai lapuk. Dari celah dinding, angin kampung sesekali masuk, membawa debu dan dingin yang menempel di kulitnya. Di ruang sempit itulah hidupnya perlahan menyusut.
Semua bermula dari sebuah sore nahas di ruas jalan desanya sendiri. Sebuah tabrak lari merenggut lebih dari sekadar kesehatan. Tangan Ibu Rosna patah tulang. Sejak saat itu, ia tak pernah benar-benar bangkit. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuh. Untuk sekadar duduk pun ia membutuhkan bantuan.
Rasa sakit tak hanya datang dari tulang yang tak pulih sempurna. Ada luka yang lebih dalam, perasaan tak berdaya, menjadi beban bagi anaknya sendiri.
Saat ditemui, Kamis (26/2/2026), suasana rumah sederhana itu terasa sendu. Dinding kayu yang kusam, atap yang mulai rapuh, serta lantai seadanya menjadi saksi bisu perjuangan panjang keluarga kecil ini.
“Berobat sudah ke mana-mana dengan biaya sendiri, sampai jual rumah. Tapi tak kunjung juga membuahkan hasil,” ucap Darazi (52), sang anak, dengan suara bergetar menahan tangis.
Segala cara telah dicoba. Dari pengobatan medis hingga alternatif. Tabungan habis. Aset satu-satunya dilepas. Rumah pun terpaksa dijual demi biaya berobat. Namun kondisi Ibu Rosna tetap tak banyak berubah. Kini yang tersisa hanyalah kamar kecil tempat ia menghabiskan hari-harinya, ditemani rasa nyeri dan harapan yang terus menipis.
Untuk kebutuhan paling dasar pun, perjuangan terasa begitu berat.
“Kalau mau buang air besar dan kecil harus ngesot ke kamar mandi,” tutur Darazi lirih.
Ia memalingkan wajah, menyembunyikan mata yang mulai memerah.
Sebagai tulang punggung keluarga, Darazi bekerja mengambil upah membuat jaring. Pekerjaan itu tak selalu ada. Upahnya pun jauh dari cukup. Apalagi fisiknya tak lagi sekuat dulu. Penghasilan seadanya harus dibagi antara kebutuhan makan dan merawat sang ibu.
Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, bantuan tak pernah benar-benar hadir.
“Selama ini tidak pernah dapat bantuan apa pun. Kalau dulu pernah dapat BLT, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya pelan.
Tak ada yang mereka tuntut selain kesempatan untuk hidup lebih layak. Namun rasa kecil hati membuat keluarga ini memilih diam. Mereka tak tahu harus mengadu ke mana. Mereka merasa terlalu kecil untuk bersuara.
“Kami ini orang kecil. Mau mengadu juga ke mana, enggak berani. Bantuan apa pun enggak pernah,” tambah Darazi.
Dua tahun adalah waktu yang panjang untuk terbaring tanpa kepastian. Di atas tikar tipis itu, Ibu Rosna melewati pagi dan malam yang nyaris serupa. Kadang ia hanya memejamkan mata lebih lama, seolah berharap ketika dibuka kembali, keadaan sudah berbeda.
Di sudut Desa Rias itu, tak ada sorotan lampu, tak ada riuh pemberitaan besar. Hanya seorang ibu yang masih menanti; menanti kesembuhan, menanti perhatian, menanti kepedulian.
Dan mungkin, menanti sebuah keajaiban kecil yang bisa mengangkatnya kembali dari tikar tipis tempat hidupnya seakan membeku.







