Aroma Monopoli Mencuat, PT BPP Biarkan Truk dan Batako Warga Desa Nangka Mati Suri

oleh -
Foto : Ilustrasi/AI

BANGKA SELATAN, TINTABABEL.COM – Kehadiran pabrik pengolahan kelapa sawit PT Bukit Palma Prima (BPP) yang semula digadang-gadang bakal menjadi pembangkit ekonomi bagi warga Desa Nangka, kini justru berbuah pahit.

Alih-alih menjadi motor pemberdayaan, perusahaan ini dituding telah meminggirkan potensi lokal dan membiarkan warga gigit jari di tanah sendiri.

Bau, ketidakadilan mulai tercium dari urusan logistik material bangunan. Meski Desa Nangka memiliki produsen batako lokal dengan kualitas bersaing, pihak kontraktor PT BPP justru lebih memilih mendatangkan material dari luar Desa Nangka.

Tak hanya soal material, sektor transportasi pun setali tiga uang. Deretan armada truk milik warga Desa Nangka kini hanya menjadi pajangan di garasi. Untuk pengangkutan pasir, batu, hingga tanah puru, perusahaan lebih memilih menggunakan jasa pihak luar.

“Bagaimana mau bicara pemberdayaan kalau dari awal saja sudah begini? Material dan truk angkut diambil dari luar desa. Warga kami hanya jadi penonton di rumah sendiri,” ungkap seorang warga Desa Nangka yang meminta identitasnya dirahasiakan dengan nada getir, Senin (4/5/2026).

Kekecewaan warga kian memuncak saat melihat serapan tenaga kerja. Janji manis PT BPP untuk memprioritaskan 70 persen tenaga kerja lokal terbukti hanya menjadi “angin surga”.

Fakta di lapangan menunjukkan, warga lokal yang direkrut sebagai tukang atau tenaga kasar bisa dihitung dengan jari.

Warga menduga ada praktik monopoli yang dilakukan oknum pemasok untuk meraup keuntungan pribadi dengan mencari harga termurah dari luar desa, tanpa memedulikan dampak ekonomi sosial bagi lingkungan sekitar pabrik.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap komitmen PT BPP kini berada di titik nadir. Masyarakat khawatir, jika pada masa pembangunan saja warga lokal sudah dikesampingkan, apalagi saat pabrik sudah beroperasi penuh nanti.

“Kami menilai janji 70 persen itu hanya sekadar pemanis mulut saat sosialisasi. Kenyataannya, kami hanya jadi penonton, sementara ‘kue’ ekonominya dinikmati orang luar dan segelintir oknum warga desa saja, yang main disitu Johanes sama Rebuin,” pungkas narasumber tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, Humas PT Bukit Palma Prima, Bravo belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan monopoli material dan pengabaian tenaga kerja lokal yang dikeluhkan warga Desa Nangka. (DK/Radak).

Baca Juga  PT Timah Salurkan 100 Tabung Oksigen Ke Pemkab Bangka

No More Posts Available.

No more pages to load.