Di Balik Kilau Tambang: Antara Janji Kesederhanaan dan Ketimpangan

oleh -

PANGKALPINANG, TINTABABEL.COM – Di Indonesia, salah satu sektor yang dianggap memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sektor industri ekstraktif, terutama pertambangan. Kekayaan sumber daya alam seperti batu bara, nikel, timah, emas, tembaga dan semacamnya menarik berbagai investasi besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Kehadiran berbagai macam perusahaan pertambangan di berbagai daerah di Indonesia kerap dipandang sebagai simbol kemajuan karena membuka peluang lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan daerah.

Namun, pembangunan ekonomi tidak selalu membawa dampak yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat.Terdapat kelompok-kelompok yang merasakan dampak berbeda, termasuk perempuan yang tinggal disekitar wilayah tambang. Perubahan sosial, ekonomi dan lingkungan akibat aktivitas pertambangan mempengaruhi kehidupan perempuan secara langsung maupun tidak langsung.

Baca Juga  Ketika Realitas dan Rekayasa Visual Tak Lagi Jelas: Tantangan Membedakan Gambar AI dan Asli

Secara ekonomi, investasi ekstraktif memang membuka peluang kerja yang besar. Tetapi, pekerjaan di sektor tambang umumnya didominasi oleh laki-laki karena dianggap membutuhkan tenaga fisik dan keterampilan teknis tertentu. Akibatnya, perempuan sering kali tersisihkan dari pekerjaan formal dengan upah tinggi dan hanya memperoleh peran di sektor informal, seperti berdagang atau menyediakan jasa domestik. Ketimpangan ini membuat kesenjangan ekonomi berbasis gender di wilayah pertambangan semakin melebar.

Selain ekonomi sisi sosial juga memberikan perubahan struktur masyarakat, karena akibat masuknya industri tambang sering membawa dampak signifikan. Seperti urbanisasi penduduk, meningkatnya jumlah pekerja laki-laki dari luar daerah, pergeseran nilai sosial yang menyebabkan meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender dan eksploitasi perempuan. Dalam beberapa kasus, perempuan menghadapi beban ganda, tetap mengurus rumah tangga sambil mencari tambahan penghasilan di tengah meningkatnya biaya hidup.

Baca Juga  Di Balik Anggaran Besar Polri 2026, Transparansi Publikasi Jadi Sorotan

Dampak lingkungan yang dihasilkan dari investasi ekstraktif juga sangat mempengaruhi perempuan. Kerusakan lahan, pencemaran air, dan berkurangnya akses terhadap sumber daya alam secara langsung memengaruhi aktivitas perempuan, terutama di komunitas pedesaan yang bergantung pada pertanian, perikanan dan pengelolaan air. Ketika sumber air tercemar, maka perempuan akan menjadi menanggung beban tambahan untuk mencari air bersih bagi dirinya sendiri dan bagi kebutuhan keluarganya.

Dengan kebijakan yang berpihak pada kesetaraan gender seperti adanya pelatihan keterampilan bagi perempuan, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, serta perlindungan terhadap hak-hak sosial dan lingkungan. tidak menutup kemungkinan investasi ekstraktif memberi manfaat bagi perempuan, serta industri tambang juga dapat berkontribusi pada pemberdayaan perempuan. Pada akhirnya, pembangunan yang adil bukan hanya soal peningkatan angka, tapi juga siapa yang merasakan manfaatnya. Jika perempuan di daerah tambang masih menghadapi marginalisasi ekonomi, sosial dan lingkungan, maka investasi ekstraktif belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pembangunan yang inklusif. (**)

Baca Juga  Ketika Jurnalis Tergerus Kepentingan Manipulatif : Pers Kehilangan Makna dan Martabat Kebenaran

 

Opini oleh : Ana Hairunisa, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

No More Posts Available.

No more pages to load.