Dari Jejaring ke Peluang Bisnis, Halal Business Connect Dorong UMKM Babel Naik Kelas

oleh -2 views
Kegiatan Halal Business Connect bertema “Connecting the Halal Ecosystem” yang digelar di Ruang Pasir Padi, Lantai 3 Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, (foto : Yuda/Radak)

PANGKALPINANG, TINTABABEL.COM — Bagi pelaku usaha, mengembangkan bisnis bukan hanya soal menghasilkan produk dan memasarkannya. Lebih dari itu, dibutuhkan jaringan, wawasan, keberanian melihat peluang, serta kesiapan untuk memenuhi standar yang dipercaya konsumen.

Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Halal Business Connect bertema “Connecting the Halal Ecosystem” yang digelar di Ruang Pasir Padi, Lantai 3 Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku usaha untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, memperluas jaringan, sekaligus menemukan peluang baru dalam ekosistem bisnis halal.

Salah satu peserta, Fitri (40), melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan berharga untuk tidak hanya memperkuat usaha yang telah dijalankannya, tetapi juga membuka pintu bagi lahirnya peluang bisnis baru.

“Ketertarikan saya mengikuti kegiatan ini selain untuk mengembangkan usaha yang saya jalankan di pabrik milik sendiri, juga untuk membuka peluang usaha baru bagi saya. Jadi, saya mengucapkan terima kasih kepada LPPOM yang sudah memfasilitasi acara ini,” ujar Fitri.

Bagi Fitri, dunia usaha terus bergerak. Karena itu, pelaku usaha perlu membuka diri terhadap informasi dan peluang baru. Salah satunya melalui jejaring antarpelaku usaha yang memungkinkan terjadinya kolaborasi dan pengembangan produk.

Baca Juga  ​Bukan Sekadar Tontonan, Pawai HUT ke-81 RI Pangkalpinang Jadi Lapak Rezeki UMKM

Dalam konteks tersebut, sertifikasi halal juga menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah usaha.

Fitri menilai sertifikasi halal bukan sekadar pemenuhan ketentuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada konsumen sekaligus mendukung kebutuhan administrasi usaha.

“Kalau untuk sertifikasi halal itu sendiri, saya menempatkannya sebagai salah satu yang utama. Ketika kita belum mengurus BPOM, sertifikasi halal setidaknya dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan administrasi usaha,” katanya.

Pengalaman Fitri dalam proses pengurusan sertifikasi halal juga relatif lancar. Menurutnya, kesiapan pelaku usaha, terutama dari sisi fasilitas produksi, menjadi salah satu faktor penting dalam proses tersebut.

“Alhamdulillah lancar. Tergantung dari diri kita sendiri, apakah fasilitas pabrik itu sendiri sudah memenuhi syarat atau belum,” ungkapnya.

Dari Pertemuan, Lahir Peluang Baru

Salah satu hal menarik dari Halal Business Connect adalah terbukanya kesempatan bagi pelaku usaha untuk melihat produk dari sudut pandang yang berbeda.

Pertemuan dan komunikasi yang terbangun dalam kegiatan tersebut membuat pelaku usaha dapat menemukan potensi kolaborasi yang sebelumnya mungkin belum terpikirkan.

Fitri mencontohkan potensi produk berbahan dasar kepiting rajungan yang ditemuinya dalam kegiatan tersebut. Produk seperti kemplang kepiting rajungan hingga kemplang telur kepiting dinilainya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha baru.

Baca Juga  Penuh Khidmat, Pegawai dan WBP Rutan Muntok Peringati Isra Miraj 1445 H / 2024 M

“Manfaatnya banyak. Bisa membuka peluang bisnis dan usaha baru, kemudian mengembangkan usaha yang sudah ada ke produk lainnya. Misalnya tadi kita bertemu dengan usaha kepiting rajungan, ada juga kemplang kepiting rajungan dan kemplang telur kepiting. Itu membuka peluang usaha yang paling besar,” jelasnya.

Menurut Fitri, peluang seperti itu menjadi semakin penting bagi UMKM. Sebab, pengembangan usaha tidak selalu harus dimulai dari membangun bisnis yang benar-benar baru. Bisa pula dilakukan dengan mengembangkan produk yang sudah ada menjadi berbagai varian dan turunan produk bernilai tambah.

Dengan demikian, ekosistem halal dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan produsen, pengolah, pemasar, hingga konsumen dalam sebuah rantai usaha yang saling menguatkan.

Tantangan Bahan Baku

Meski peluang usaha terbuka lebar, Fitri menyadari pelaku usaha masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya ketersediaan bahan baku.

Ia menyoroti kondisi bahan baku sagu yang mengalami kenaikan harga. Keterbatasan pasokan menjadi persoalan tersendiri karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan produksi dan biaya usaha.

“Bahan baku yang pertama. Seperti sagu, apalagi sekarang harganya naik. Untuk turun kemungkinan kecil, karena dari petani sendiri, mulai dari sagu membutuhkan ubi, sementara sekarang sudah banyak yang tidak menanam lagi. Jadi bahan bakunya minim,” tuturnya.

Baca Juga  Gandeng BI, OJK Perkuat Sinergi Dongkrak Ekonomi Daerah dan UMKM

Persoalan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa membangun ekosistem usaha halal membutuhkan dukungan yang lebih luas. Tidak hanya pada aspek sertifikasi, tetapi juga menyangkut ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, pemasaran, akses jaringan, hingga pengembangan inovasi produk.

Karena itu, Fitri berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat terus hadir memberikan ruang dan dukungan bagi para pelaku usaha di Bangka Belitung.

“Pemerintah mungkin bisa lebih memajukan lagi, membuka peluang usaha-usaha baru dan memfasilitasi pengajuan halal,” ujarnya.

Halal Business Connect pada akhirnya bukan sekadar forum pertemuan. Di balik diskusi dan jejaring yang terbangun, terdapat harapan agar semakin banyak pelaku usaha Babel berani naik kelas.

Sertifikasi halal menjadi salah satu pijakan. Jaringan menjadi penguat. Sementara inovasi dan keberanian membaca peluang menjadi modal untuk membawa produk lokal Bangka Belitung semakin berkembang.

Dari sebuah pertemuan, bisa lahir sebuah kolaborasi. Dari sebuah jaringan, dapat tumbuh peluang usaha. Dan dari usaha-usaha yang terus berkembang, ekonomi daerah pun memiliki kesempatan untuk bergerak semakin kuat. (Yuda/Radak)

No More Posts Available.

No more pages to load.