JAKARTA, TINTABABEL.COM — FIFA bersiap menaikkan total hadiah Piala Dunia 2026 setelah gelombang protes dari sejumlah federasi nasional yang khawatir biaya operasional di tiga negara tuan rumah — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — bakal menggerus pendapatan mereka.
Kabar ini pertama kali mencuat pada Februari lalu, ketika Press Association dan The Guardian mengungkap kegelisahan sejumlah federasi Eropa. Mereka memperhitungkan ongkos partisipasi di turnamen kali ini akan jauh lebih besar dibanding Piala Dunia 2022 di Qatar — bahkan berisiko membuat mereka merugi meski tampil di pesta sepak bola terakbar dunia.
Sejak isu itu meledak, FIFA bergerak cepat. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut menggelar serangkaian dialog dengan federasi-federasi anggota dari seluruh benua. Hasilnya, paket finansial baru hampir pasti diketuk dalam rapat FIFA Council di Vancouver, Kanada, Selasa, 28 April 2026.
Hadiah Naik, Dana Pembangunan Ikut Disuntik
Kenaikan tidak hanya menyasar peserta turnamen. FIFA juga akan memperbesar alokasi dana pembangunan (development funding) yang mengalir ke 211 asosiasi anggota di seluruh dunia.
“Menjelang rapat FIFA Council di Vancouver, Kanada, pada 28 April 2026, FIFA mengonfirmasi tengah berdiskusi dengan asosiasi-asosiasi di seluruh dunia untuk meningkatkan pendapatan yang tersedia,” ujar juru bicara FIFA kepada Press Association.
Juru bicara itu menambahkan bahwa pembahasan mencakup usulan kenaikan kontribusi finansial untuk seluruh tim yang lolos ke Piala Dunia 2026, sekaligus pendanaan pembangunan bagi seluruh asosiasi anggota.
FIFA menegaskan, Piala Dunia 2026 akan menjadi tonggak baru dari sisi kontribusi finansial bagi komunitas sepak bola global. Federasi mengaku berada dalam posisi keuangan terkuat sepanjang sejarah untuk menyalurkan manfaat lewat program FIFA Forward. Rincian lebih lanjut akan diumumkan setelah pembahasan rampung.
Rekor Hadiah Rp11,7 Triliun, Tetap Dianggap Kurang
Pada Desember 2025, FIFA sudah mengetuk hadiah rekor sebesar 727 juta dolar AS (sekitar Rp11,7 triliun) yang akan dibagi di antara 48 tim finalis. Sang juara dijatah 50 juta dolar AS atau setara Rp805 miliar.
Namun rekor itu pun ternyata belum cukup meredakan kecemasan federasi-federasi Eropa. Sumber-sumber yang berbicara kepada PA pada Februari lalu menyebut keraguan mereka berakar pada ketidakpastian pajak — sebuah persoalan klasik di Amerika Serikat di mana setiap negara bagian punya aturan fiskal sendiri. Tanpa jaminan keringanan pajak yang jelas, federasi takut hadiah besar yang dipamerkan di atas kertas akan tergerus saat dicairkan.
Manuver Diplomatik Jelang Kickoff
Langkah FIFA membuka dialog lintas benua dinilai sebagai upaya damai sebelum turnamen resmi dibuka 11 Juni 2026. Piala Dunia kali ini juga menjadi yang pertama digelar di tiga negara dan pertama dengan format 48 tim — sebuah skala yang memang menuntut ongkos logistik lebih besar bagi setiap kontestan.
Bagi FIFA, menjaga federasi anggota tetap untung adalah harga mati. Sebab tanpa dukungan asosiasi nasional, narasi “Piala Dunia paling menguntungkan sepanjang sejarah” yang sedang dijual Gianni Infantino dan kolega bisa kehilangan pijakan. (Inilah).
Bukan Cuma Gengsi, Juara Piala Dunia 2026 Bakal Diguyur Bonus Lebih dari Rp805 Miliar







