Bersembunyi di Balik Kedok Kantor IT, Markas Judi Online Internasional di Hayam Wuruk Plaza Digerebek

oleh -
Polisi menggiring sejumlah tersangka kasus perjudian daring di Perkantoran Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta, (foto : Antara/Inilah)

JAKARTA, TINTABABEL.COM – Tidak ada yang tampak mencurigakan dari aktivitas di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta Barat. Gedung itu terlihat seperti perkantoran biasa hingga penggerebekan aparat membuka dugaan adanya operasi judi online berskala internasional di dalamnya.

Dari hasil penelusuran awal, aparat menemukan ratusan pekerja asing, puluhan domain judi online, serta sistem operasional tertutup yang diduga terhubung dengan jaringan luar negeri.

Hingga pertengahan Mei 2026, polisi masih menutup rapat identitas pihak yang diduga menjadi aktor utama di balik operasi tersebut.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Himawan Bayu Aji mengatakan penyidikan belum berhenti pada operator lapangan.

“Kami masih melakukan pengembangan untuk mengungkap pihak yang mengendalikan jaringan ini, termasuk kemungkinan adanya aktor utama di luar negeri,” kata Himawan dalam keterangannya.

Dua lantai yang kini telah disegel sebelumnya diketahui digunakan oleh perusahaan berbasis teknologi, layanan IT support, hingga customer service.

“Dari luar terlihat normal. Tidak ada yang mencurigakan. Aktivitasnya seperti kantor biasa,” ujar seorang sumber di lokasi yang enggan disebutkan namanya.

Namun di balik pintu kantor tersebut, diterapkan sistem keamanan mandiri yang terpisah dari kontrol gedung utama.

Akses masuk disebut menggunakan kartu khusus dan sidik jari sehingga aktivitas di dalam nyaris tidak dapat dipantau pihak luar.

Pola aktivitas para pekerja juga dinilai tidak lazim. Mereka datang dan pulang secara berkelompok dengan kendaraan yang sama serta minim berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

“Interaksi sangat minim. Mereka langsung masuk ke area kerja. Tidak pernah terlihat santai di luar,” ujar sumber tersebut.

Direktur Jenderal Imigrasi Silmy Karim menyebut pola seperti itu kerap digunakan untuk menyamarkan aktivitas ilegal.

“Pengawasan terhadap keberadaan dan aktivitas warga negara asing akan kami perketat, termasuk penelusuran sponsor dan izin tinggalnya,” kata Silmy.

Dari pendalaman yang dilakukan, jaringan tersebut diduga tidak menyasar pasar Indonesia. Sebagian besar operator disebut berasal dari Vietnam, China, dan Myanmar dengan target pemain dari negara asal mereka.

“Ini bukan untuk pasar Indonesia. Semua sistemnya diarahkan ke luar. Indonesia hanya jadi tempat operasional,” kata sumber lain yang meminta identitasnya disamarkan sebagai Hasan.

Temuan itu sejalan dengan hasil analisis kepolisian yang menemukan sejumlah domain berbahasa asing dan terhubung ke jaringan internasional.

“Kami menemukan sejumlah situs yang tidak ditujukan untuk pengguna di Indonesia, melainkan pasar internasional,” tutur Himawan.

Keberadaan fasilitas internal seperti coffee shop dan kantin di dalam area kerja juga memperkuat dugaan adanya operasi tertutup.

“Mereka seperti dikondisikan tetap di dalam. Semua sudah disiapkan agar tidak banyak terlihat,” ungkap Hasan.

Penyidik menduga struktur jaringan sengaja dibuat berlapis agar operator di lapangan tidak mengetahui sosok pengendali utamanya.

“Operator di lapangan tidak tahu siapa pemilik utamanya. Struktur sengaja diputus,” katanya.

Selain itu, aparat juga mulai menelusuri dugaan aliran dana lintas negara yang mengalir melalui sejumlah lapisan transaksi.

“Ada dugaan uangnya tidak berhenti di Indonesia. Mengalir keluar melalui beberapa lapisan, kemungkinan menggunakan perusahaan cangkang,” ujarnya.

Polisi memastikan penyelidikan akan terus dikembangkan, termasuk bekerja sama dengan sejumlah instansi untuk menelusuri aliran dana dan kemungkinan keterlibatan jaringan internasional.

“Kami bekerja sama dengan instansi terkait untuk menelusuri aliran dana dan kemungkinan keterlibatan jaringan internasional,” kata Himawan.

Kasus ini membuka dugaan bahwa di tengah pengawasan kota besar seperti Jakarta, operasi ilegal berskala global masih bisa berjalan secara tertutup dan nyaris tanpa terdeteksi.

Hayam Wuruk diduga baru satu titik yang terungkap, sementara jaringan besar di belakangnya masih terus diburu aparat. (Inilah)

Baca Juga  Lonjakan Kasus Pinjol Ilegal dan Judi Online: Perlindungan Konsumen dan Penegakan Hukum Menguat

No More Posts Available.

No more pages to load.