Anak Buah Ditangkap, Bos Dayat Lenyap: Pengendali Tambang Ilegal di Keranggan-Tembelok Masih Misterius

oleh -

TINTABERITABABEL.COM, BANGKA BARAT — Penangkapan dua kolektor pasir timah ilegal, Aldi Lesmana (28) dan Aries (41), oleh Polres Bangka Barat pada Jumat (5/12/2025) malam lalu, terus menyisakan tanda tanya besar di kalangan masyarakat pesisir. Pasca penangkapan tersebut, sosok yang selama ini kerap disebut warga sebagai pengendali jaringan timah ilegal di kawasan Keranggan–Tembelok, yakni Bos Dayat, diisukan kabur dan menyembunyikan diri dari pantauan awak media maupun pengawasan sosial masyarakat.

Informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber menyebutkan, Bos Dayat diduga merupakan atasan langsung dari Aldi dan Aries dalam rantai distribusi pasir timah ilegal. Keduanya disebut hanya berperan sebagai pengumpul lapangan alias kolektor, yang menyalurkan pasir timah dari ponton-ponton ilegal menuju titik-titik penampungan tertentu.

Sementara Bos Dayat, diduga berafiliasi dengan Liku, pemain lama di dunia pertimahan yang diduga kuat menjadi penyokong utama bisnis timah Bos Dayat di wilayah Keranggan-Tembelok.

Sejumlah awak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Bos Dayat, namun tidak berhasil menemui atau menghubungi yang bersangkutan hingga Sabtu (13/12/2025). Upaya konfirmasi dilakukan secara intensif selama sepekan penuh, baik melalui jalur personal, jaringan lapangan, maupun titik-titik yang selama ini diyakini sebagai lokasi aktivitasnya.

Baca Juga  Bos Timah Herman Fu dan KPHP Mardiansyah Jadi Tersangka, Kasus Perambahan Hutan dan Tambang Timah Ilegal di Dusun Nadi

“Sudah hampir seminggu ini kami cari, tidak ada yang bisa memastikan keberadaannya. Nomor tidak aktif, orang-orangnya juga diam,” ujar salah satu wartawan yang terlibat dalam upaya konfirmasi tersebut.

Keterangan serupa disampaikan warga pesisir yang selama ini memantau pergerakan tambang ilegal di Keranggan–Tembelok. Menurut mereka, aktivitas Bos Dayat mendadak senyap sejak aparat menangkap Aldi dan Aries.

“Biasanya tiap hari ada saja kabar dia. Sekarang sudah seminggu ini sepi. Tidak bisa dihubungi, tidak kelihatan batang hidungnya,” kata seorang warga Mentok yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Warga lainnya menyebutkan, bahwa gudang yang selama ini diduga menjadi lokasi lobi dan penampungan timah (dikenal di kalangan masyarakat sebagai Gudang Liku), juga tampak tidak lagi beroperasi. Gudang yang beralamat di Puput Atas, Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) itu sepi senyap dan tak menampakkan tanda-tanda kehidupan.

Baca Juga  Skandal Tambang Ilegal di Parittiga: Hutan Produksi Dibongkar, Warga Tuding Ada Oknum Aparat Bermain

“Hari ini pun tidak pernah bisa ditemui. Gudang itu (Gudang Liku) kosong, tidak ada aktivitas. Biasanya ada saja orang keluar masuk,” ujar sumber masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

Gudang Liku selama ini kerap disebut warga sebagai salah satu simpul penting dalam jalur distribusi pasir timah ilegal dari perairan Keranggan–Tembelok ke jaringan pembeli berikutnya. Namun, hingga kini, tidak ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum mengenai status gudang tersebut, maupun keterkaitannya dengan Bos Dayat.

Hingga berita ini diturunkan, Bos Dayat belum memberikan klarifikasi apa pun. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media selama sepekan terakhir tidak mendapatkan respons, baik secara langsung maupun melalui perantara.

Baca Juga  Ungkap Penyelundupan Timah 11,2 Ton ke Malaysia, Konferensi Pers Polres Bangka Barat Tak Sebutkan Identitas 5 Tersangka

Kondisi ini memperkuat dugaan warga bahwa penangkapan Aldi dan Aries belum menyentuh struktur utama jaringan tambang ilegal di wilayah tersebut. Masyarakat menilai, menghilangnya Bos Dayat justru menegaskan bahwa aktor-aktor besar masih berada di luar jangkauan hukum.

“Yang ditangkap cuma anak buah. Begitu anak buah kena, bosnya menghilang. Polanya selalu begitu,” ujar seorang nelayan tua di pesisir Mentok.

Sampai saat ini, Polres Bangka Barat belum menyampaikan penjelasan resmi terkait hubungan struktural antara Bos Dayat dengan dua kolektor yang telah ditangkap, maupun langkah lanjutan untuk menelusuri dugaan peran pengendali di balik aktivitas ponton ilegal Keranggan–Tembelok.

Lantas, yang menjadi tanda tanya publik saat ini, siapa pengendali tambang timah ilegal di Keranggan-Tembelok? Apakah Bos Dayat seorang, jika menilik pada perkembangannya timah ilegal yang dihasilkan berakhir di Gudang Liku. Benarkah Liku menjadi penyokong Bos Dayat di kasus ini (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.